Minggu, 28 Februari 2010

TOP TV memang top banget :)



Ketika seminggu lalu saya melihat TV di RS, gak sengaja saya melihat iklan TOP TV, yg menawarkan lebih dari 33 channel hiburan dlm kualitas gambar digital hanya dengan bayar Rp.88.ribu saja

Mulanya gak terlalu yakin, tapi saya lalu telpon ke 0807 15000 88 .. dan ternyata sales nya ramah2 dan diterangkan bhw ini kualitas tayangan punya INDOVISION, namun ini adalah "versi paket hemat" nya.

Saya selama ini selalu cemas dan menggerutu dengan tayangan-tayangan tidak mendidik dari TV-TV swasta kita yang selalu menawarkan paket hiburan sinetron-sinetron cengeng yang membodohkan otak masyarakat. Salah satu TV swasta pelopor yang dulu pertama muncul di tahun '90-an, dulu TV ini sangat pionir menayangkan film-film seri TV yang sangat cerdas dan berkualitas seperti Quantum Leap, McGyver, film-film detektif, dan bahkan film Science Fiction sepanjang masa yaitu STAR TREK pun diputar oleh stasiun TV swasta pertama di Indonesia tersebut. Namun sayang seribu sayang, saat ini TV swasta tersebut lebih memilih memanjakan ibu-ibu rumah tangga dan para pembantu dengan tayangan sinetron-sinetron yang selalu mengusung tema kemewahan/materialisme, intrik rumah tangga, perselingkuhan, kedengkian, dll yang sangat membodohkan otak penontonnya. Lebih bodohnya lagi, trend tayangan itu ditiru juga oleh "saudara"nya TV swasta itu, dengan berlomba-lomba menayangkan sinetron-sinetron picisan tersebut.

Bukannya saya terlalu membangga-banggakan import. Tetapi kenyataan berbicara bahwa hampir tak ada produser film / production house yang mau berpikir keras membuat film-film seri berthema Science Fiction, atau detektif, atau perpaduan keduanya, seperti misalnya film serial Crime Scene Investigation, dan sejenisnya. Bukannya tak mampu, tetapi para produser film dan pengelola TV swasta di Indonesia kelihatannya malas berpikir dan berbuat inovasi, hanya senang meniru trend dan mengikuti selera rendah dari populasi terbanyak penonton; tanpa mencoba untuk membuat terobosan dan mencoba untuk meng-edukasi penonton-2nya.

Dengan hadirnya TOP TV ini, sedikit membawa kelegaan bagi saya karena at least, masyarakat luas jadi lebih punya akses kepada alternatif-alternatif tayangan hiburan yang sehat dan mendidik dengan harga yang terjangkau. Dengan hanya Rp.88ribu per bulan, masyarakat disajikan alternatif-2 pilihan tayangan sehat dan cerdas dengan harga terjangkau.

Anak-anak tidak harus dicekoki dengan tayangan sinetron cengeng yang membodohkan, mereka bisa saya arahkan untuk menonton saluran History, National Geographic, atau hiburan-hburan sehat seperti Disney channel, Baby TV dan sejenisnya. Ada juga tayangan bagus yang mendidik di channel 95 Indovision yaitu LIFE channel. Ini saluran dengan terjemahan bahasa Indonesia yang sangat insipiratif dan mencerdaskan. Saya sangat bersyukur Indovision punya chanel seperti ini.

Hanya satu saja mungkin yang bisa saya usulkan kepada pengelola TOP TV, agar mereka bisa menambah chanel Science Fiction di paket dasar mereka. Masyarakat Indonesia perlu banyak sekali menonton siaran-siaran yang bertema Science Fiction untuk mencerdaskan bangsa dan membawa generasi muda kita ke arah generasi yang berpikir cerdas dan kritis untuk membangun masa depan negara.

Lebih bagus lagi apabila TOP TV bisa mendorong TV-TV swasta untuk kembali memutar film-film STAR TREK baik dari era 'The Original Series' atau The Next Generation atau sampai dengan film-film serial STAR TREK terbaru seperti ENTERPRISE.

Maju terus TOP TV!.. we support you ! :)

Minggu, 31 Januari 2010

KURANGI EMISI GAS BUANG EFEK RUMAH KACA

STAR TREK bukan hanya mengajarkan filosofi perdamaian universal, namun juga mengajarkan nilai-nilai kedisiplinan dalam menjaga dan memelihara lingkungan hidup. Seorang pencinta STAR TREK yang memahami filosofi nilai-2 film2 STAR TREK pastilah memperjuangkan pelestarian alam lingkungan hidup.

Dari hasil Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen Desember 2009 lalu, Susilo Bambang Yudhoyono komit bahwa hingga th. 2020 mendatang Indonesia akan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 26%. Hal itulah yang kini dipertanyakan oleh Greenpeace.

Diwakili oleh juru kampanye Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, Greenpeace menilai hingga saat ini belum ada pergerakan yang berarti dari SBY untuk merealisasikan komitmen itu. Bahkan untuk melaksanakan Keppres yang sudah dikeluarkan yaitu No 32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung, khususnya perlindungan lahan gambut sebagai salah satu faktor pengurang gas emisi juga belum kelihatan riaknya.

Pembiaran perluasan perkebunan kelapa sawit serta masih maraknya perusahaan Pulp n Paper di kawasan Semenanjung Kampar Riau menjadi contoh belum seriusnya pemerintah menangani masalah ini. Padahal laporan kinerja atas upaya kongkrit Pemerintah harus sudah dilaporkan akhir Januari 2010 ini.

Menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah khususnya Menteri Kehutanan untuk segera bertindak cepat menahan laju deforestasi dan penghancuran lahan gambut yang jika tak dicegah, diperkirakan bisa menyumbang sebesar 80% gas emisi.

Cabut ijin yang sudah keluar dan tolak ijin yang masuk untuk segala aktifitas di lahan gambut adalah cara yang paling cepat dan efektif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Senin, 25 Januari 2010

Use your talent

DO YOU LIKE STAR TREK and become an ENGINEER? or Environmental or community development person?

Opening Mining company needs you. PLEASE FORWARD ALSO THIS INFO to your colleagues, VACANCIES AS FOLLOW:

1.Senior Accountant
2.Community development
3.Enviromental officer
4.Site safety officer
5.Site Logistic & admin Officer
6.Architecture engineer
7.Drawing engineer
8.Estimator engineer
9.Scheduler engineer
10.Mechanical piping engineer
11.Electrical/instrument engineer
Prefer from mining & EPC experience

Kirim complete CV and Photograph to:
Sunardi
Consultant & Mechanical Assessor
E-mail: sunardi@jda-indonesia.co.id

Selasa, 05 Januari 2010

Prediksi Ekonomi 2010 - Ferengi mode: ON


Dengan membandingkan berbagai fakta perkembangan situasi pasar dunia, bersama ini saya ingin memberikan prediksi berdasarkan logika (logic) mengenai perkembangan kondisi ekonomi kita di thn.2010 dan menjelang peluncuran film Star Trek di 2011. Ketika ngobrol-ngobrol dengan rekan-rekan Ferengi dan ekonom Federasi, tahun ini diyakini akan menjadi tahun kebangkitan ekonomi dunia, setelah terpuruk di tahun 2008 dan 2009 lalu. Tanda-tanda itu sudah jelas terlihat.

Tengoklah negara-negara maju di Eropa dan Jepang yang ekonominya semakin menggeliat dan berhasil masuk zona pertumbuhan ekonomi yang positif. Bahkan, negeri matahari terbit, Jepang, berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8 % (year on year).

Tentunya ini pertanda baik bagi perekonomian domestik, mengingat negara-negara tersebut termasuk dalam daerah tujuan ekspor barang-barang produksi negara Republik Indonesia kita tercinta ini. Semakin cepat negara-negara tersebut memacu pertumbuhan domestiknya, berarti semakin besar peluang peningkatan permintaan akan barang-barang kita.

Bila itu terjadi serentak di berbagai penjuru dunia dengan akselerasi yang semakin tinggi, maka kita boleh berharap bahwa pertumbuhan ekonomi domestik akan semakin melaju ke posisi lebih baik dibandingkan pencapaian tahun 2009 yang diperkirakan sekitar 3,4 – 4,5 %. Bahkan, kita pun boleh berharap pertumbuhan ekonomi tahun ini dapat mendekati posisi tahun 2008 (6,1 %) apabila pemerintah mau dan mampu lebih agresif lagi dalam membenahi berbagai hal terkait dengan upaya peningkatan daya saing produk-produk jasa dan barang Indonesia.

Variabel faktor penentu daya saing tersebut antara lain birokrasi yang lebih efisien dan tidak berbelit, pemangkasan biaya pungli pengurusan perizinan, infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, kepastian hukum, stabilitas politik, dan akses pasar. Ancaman keterbatasan pasokan listrik tidak boleh terjadi lagi sepanjang tahun 2010 ini, karena itu akan mengganggu proses produksi di berbagai bidang. Kendala akses jalan dari satu tempat ke tempat lainnya dalam suatu rantai produksi juga harus diminimalisir.

Pemerintah juga harus mampu membuat terobosan dalam meminimalisir titik-titik kemacetan, memperbaiki jalan rusak, dan membuat jalan baru untuk mempersingkat waktu tempuh atau jarak angkut. Hal tersebut merupakan kunci untuk meningkatkan efisiensi pengeluaran logistik di tanah air yang saat ini masih tercatat sekitar 30 % PDB, jauh diatas China yang sekitar 20% PDB nya.

Dengan optimisme keadaaan ekonomi dunia, diharapkan Paramount dapat melebarkan kantong pengeluaran budget nya untuk membuat Film sequel Star Trek TFB dengan lebih dahsyat lagi. Dan kesempatan peluang kita mengadakan Star Trek convention di thn.2011 semoga dapat menjadi lebih optimis dengan adanya peningkatan perdagangan, diharapkan mitra-mitra yang diharapkan menjadi sponsor Star Trek convention ini dapat lebih optimis memandang pertumbuhan perekonomian dan perdadangan di tahun 2010 dan 2011. Live Long and Prosper ! …

Minggu, 29 November 2009

Buku Kumpulan 30 Cerpen SCIFI Pemenang Lomba

Kami jual Buku Kumpulan Cerpen FIKSI ILMIAH INDONESIA, berisi 30 CERPEN Pemenang Lomba kisah Fiksi. Dalam buku ini juga terdapat tiga karya saya sebagai pemenang Lomba tersebut.

Sinopsis:

1. "Kekuatan Tak Terlihat": Judul Asli adalah Perisai Tak Terlihat. Dikisahkan bahwa Kapal dari Jepang bernama KOBAYASHI MARU yang mengangkut peralatan pembangkit listrik Tenaga Nuklir kerjasama Indonesia dan Jepang, dibajak di Selat Malaka. Para Engineer dan seluruh awak kapal berada dalam ancaman Bajak Laut dipaksa untuk membuat sebuah prototype Bom Nuklir untuk dijual di pasar gelap senjata dan sindikat teroris. Seorang pimpinan Engineer dari Indonesia, Insinyur Gatot yang menjadi pimpinan para Engineer harus memutar otak untuk menyelamatkan diri mereka. Mereka tahu, bahwa ketika protoype Bom Nuklir selesai dibuat, mereka semua akan ditembak mati...

2. "Lompatan Kuantum": Seorang Kepala Sekolah menemukan sebuah karya tulis salah seorang muridnya dari kelas IV SD yang sangat luar biasa. Dalam karya tulis itu dituliskan bagaimana seorang muridnya bernama David memiliki teman-teman yang mampu membuat dan menggunakan alat-alat teknologi super canggih yang mungkin baru akan bisa ditemukan 100 atau 200 tahun yang akan datang. Ketika ia berniat menyelidiki, David dan seluruh keluarganya menghilang bagai ditelan bumi. Para investigator yang berniat menyelidiki juga menghilang satu persatu. Bagaimana ia mampu memecahkan misteri ini?

3. Pikiran Dalam Sirkuit Digital: Seorang peneliti sangat percaya bahwa dalam sebuah sirkuit digital cybernetic life form dapat meng-copy dan meniru impuls pikiran otak manusia dan mampu memindahkan pikiran serta jiwa seseorang ke dalam sebuah robot. Apa yang terjadi kemudian dalam percobaannya, ternyata membawa sebuah dampak sangat luar biasa dalam kehidupannya di masa yang akan datang...

Disamping ketiga cerpen karya saya diatas, masih ada lagi 27 Cerpen lagi yang sangat menarik serta membawa imajinasi liar kita ke masa mendatang.

Dengan hanya merogoh kocek kita sebesar Rp.90.000,- saja, kita dapat menikmati 30 Cerpen karya anak bangsa yang sangat luar biasa ini dalam buku setebal 396 halaman. Bagi yang memesan kepada saya sebelum akhir bulan ini, akan saya berikan notes khusus dan tanda tangan penulis di halaman depan buku.

Jangan lewatkan kesempatan ini, buku ini juga dapat kita jadikan hadiah bagi keponakan atau saudara kita yang menginjak remaja, sehingga mereka mulai mencintai karya-karya Fiksi Ilmiah dalam taraf yang dapat mereka mengerti dan nikmati, dan pasti akan merangsang kecintaan mereka akan ilmu pengetahuan dan science terapan.

Hubungi email saya: bowo_trahutomo@yahoo.com
dengan subject: Pesan Buku SciFi
Cantumkan:
1. Nama Lengkap:
2. Alamat Lengkap:
3. Kode Pos:
4. Nomor Telepon:
(alamat lengkap dan kode pos akan memudahkan penentuan biaya kirim).

http://www.facebook.com/trahutomo?ref=profile#/notes/bowo-t-kirk/buku-30-cerpen-pemenang-lomba-kisah-scifi/187096219385

Selasa, 24 November 2009

Tanggung Jawab kita terhadap ALAM






Ketika kita menonton Film STAR TREK IV: "The Voyage Home" kita sedang diberikan sebuah pengajaran berharga betapa kita sebagai pencinta Science Fiction, pencinta Star Trek, haruslah juga menjadi pencinta lingkungan hidup yaitu Bumi dan segala isinya dimana kita bergantung untuk hidup.




Di dalam sejarah peradaban manusia, terdapat tiga revolusi yang telah mengubah pola kehidupan bermasyarakat selamanya, baik dari segi produksi, distribusi, maupun konsumsi. Yang pertama adalah Revolusi Agraria pada masa prasejarah, yang kedua adalah Revolusi Industri pada abad ke-18, dan yang ketiga adalah revolusi yang berhubungan dengan pengolahan minyak bumi pada paruh abad ke-19.

Revolusi Agraria adalah berubahnya metode pencarian makanan dan pekerjaan yang dulunya pemburu dan pengumpul makanan menjadi petani dan penggarap kebun/ladang. Revolusi ini memungkinkan manusia untuk memproduksi makanan lebih dari yang ia butuhkan, sehingga terjadi surplus. Dari sana berkembanglah penimbunan, perdagangan, dan pemukiman yang lebih besar.

Revolusi Industri ditandai dengan proses otomatisasi produksi, terutama tenaga kerja manusia digantikan dengan mesin yang berakibat pada penggunaan batu bara dalam jumlah besar serta berlanjut pada pencarian sumber energi alternatif yang lebih mudah diperoleh serta lebih "ramah lingkungan", karena seperti yang kita ketahui proses penambangan batu bara sering kali memakan korban jiwa selain juga menimbulkan dampak polusi yang sangat hebat.

Penemuan cara penyulingan "minyak batu" (petroleum) menjawab kebutuhan tersebut. Minyak bumi dapat dihasilkan lebih cepat daripada batu bara dengan polusi yang relatif lebih kecil dibandingkan batu bara. Namun penggunaan minyak bumi secara luas, terutama sejak Perang Dunia II, baik pada kendaraan bermotor maupun pabrik-pabrik, telah menghasilkan polusi yang luar biasa besarnya sebagai timbal balik dari segala fasilitas yang dapat dinikmati oleh manusia saat ini.

Adalah tugas kita, para pencinta Star Trek, untuk mengelola bumi dan memanfaatkan sumber daya alamnya secara bertanggung jawab. Kita perlu memikirkan tidak hanya kepentingan sesaat saja, tetapi juga untuk berpikir ke depan, untuk anak-anak serta generasi-generasi yang akan datang supaya mereka tidak hidup di tengah-tengah dunia yang rusak akibat polutan-polutan yang telah kita tinggalkan serta sumber daya yang telah kita habiskan. Jadilah pencinta Star Trek yang mencintai lingkungan.

Kiranya artikel di bawah ini menolong Anda untuk menyadari bahwa dari awal penciptaan, Tuhan telah memanggil manusia untuk mengelola dan memelihara alam ciptaan-Nya sesuai dengan rancangan-Nya yang ajaib. Menyimpang dari rancangan-Nya akan menyebabkan malapetaka.


ETIKA LINGKUNGAN HIDUP

I. Pengantar

Akhir-akhir ini, perhatian dan kesadaran umat manusia untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan hidupnya semakin meningkat. Hal itu sejalan dengan pengetahuan yang semakin banyak dan pengalaman yang semakin nyata bahwa lingkungan hidup atau planet bumi sedang sakit atau rusak. Sakit atau rusaknya planet bumi itu disebabkan oleh ulah manusia sendiri, yaitu dalam kaitannya dengan pemanfaatan dan pengelolaan sumber-sumber alam. Cara memanfaatkan dan mengelola lingkungan cenderung bersifat eksploitatif dan destruktif. Maka proses pemanfaatan dan pengelolaan lingkungan mengandung aspek perusakan lingkungan, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Sebenarnya proses perusakan lingkungan sudah berjalan lama, yaitu sejak dimulainya proses industrialisasi. Industrialisasi menyadarkan manusia bahwa alam merupakan deposit kekayaan yang dapat memakmurkan. Maka mulai saat itu sumber-sumber alam dieksploitasi untuk diolah menjadi barang guna memenuhi kebutuhan demi kemakmuran hidup manusia. Dengan adanya alat ampuh, yaitu mesin, maka alam pun dipandang dan dikelola secara mekanis. Terjadilah intensitas pengeksploitasian lingkungan menjadi semakin gencar tak terkendali.



Alam dilihat tidak lebih dari benda mekanis yang hanya bernilai sebagai instrumen untuk kepentingan manusia. Alam tidak lagi dihargai sebagai organisme. Sayangnya, kesadaran akan semakin rusaknya lingkungan hidup mulai muncul sejak sesudah Perang Dunia II dan mulai mengglobal tiga dekade yang lalu ketika alam terlanjur rusak berat atau sakit parah. Ketika itu manusia makin menyadari bahwa sumber-sumber alam (khususnya "non-renewable resources") semakin menipis.

Pengelolaan alam secara mekanistik yang diikuti pula oleh pertumbuhan demografi yang terus melaju sehingga pada akhir dekade 1960-an ditandai dengan "ledakan penduduk dunia". Kenyataan itu mendorong digerakkannya pembangunan yang berorientasi pada "pertumbuhan ekonomi" yang justru semakin meningkatkan pengeksploitasian sumber-sumber alam. Hal ini tidak untuk kemakmuran saja, tetapi bahkan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar dari umat manusia yang semakin banyak. Misalnya, hutan selain sebagai sumber bahan baku untuk diolah menjadi bahan produk, juga dikonversi menjadi lahan pertanian. Perusakan ini diperberat oleh polusi atau pencemaran. Untuk menjaga kesuburan lahan pertanian, digunakan pupuk kimia, dan untuk menjaga panen dari serangan hama, digunakan pestisida secara besar-besaran sehingga produksi pertanian meningkat. Semua itu, bersama dengan industri dan transportasi yang dibangun untuk meningkatkan produksi dan distribusi, membentur alam dalam bentuk polusi. Akibatnya sumber alam semakin menipis, kemampuan daya dukung alam berkurang dan mengancam kehidupan manusia sendiri.

Dari keterangan di atas, menjadi nyata bahwa benturan yang menyebabkan lingkungan hidup menderita sakit atau rusak datang dari manusia dalam proses mengambil, mengolah, dan mengonsumsi sumber-sumber alam. Benturan terjadi ketika proses-proses itu melampui batas-batas kewajaran atau proposionalitas. Batas-batas kewajaran atau proposionalitas itu terlampaui ketika manusia semakin mampu dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi memanfaatkan sumber-sumber secara masal, intensif, dan cepat dan sekaligus mengotori atau mencemarinya. Tetapi yang lebih parah lagi, yaitu bahwa manusia yang merasa semakin enak semakin tidak tahu diri, sehingga ia seolah-olah menjelma menjadi tuan dan pemilik alam. Maka kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup harus dikembalikan pada manusia, dengan mempertanyakan tentang dirinya dan kelakuannya terhadap alam.

Dalam cerita penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan bersama dengan seluruh alam semesta. Itu berarti bahwa manusia mempunyai keterkaitan dan kesatuan dengan lingkungan hidupnya. Akan tetapi, diceritakan pula bahwa hanya manusia yang diciptakan sebagai 'gambar' Sang Pencipta ("Imago Dei") dan yang diberikan kewenangan untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan segala isinya. Jadi di satu segi, manusia adalah bagian integral dari ciptaan (lingkungan), akan tetapi di lain segi, ia diberikan kekuasaan untuk memerintah dan memelihara bumi. Maka hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya seperti dua sisi dari mata uang yang mesti dijalani secara seimbang.

1. Kesatuan Manusia dengan Alam

Alkitab menggambarkan kesatuan manusia dengan alam dalam cerita tentang penciptaan manusia: "Tuhan membentuk manusia itu dari debu tanah", seperti Ia juga "membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara". Dalam bahasa Ibrani, manusia disebut "adam". Nama itu memunyai akar yang sama dengan kata untuk tanah, "adamah", yang berarti warna merah kecokelatan yang mengungkapkan warna kulit manusia dan warna tanah.




Dalam bahasa Latin, manusia disebut "homo", yang juga memunyai makna yang berkaitan dengan "humus", yaitu tanah. Dalam artian itu, tanah yang biasa diartikan dengan bumi, mempunyai hubungan lipat tiga yang kait-mengait dengan manusia: manusia diciptakan dari tanah, ia harus hidup dari menggarap tanah, dan ia pasti akan kembali kepada tanah. Di sini
nyata bahwa manusia dan alam (lingkungan hidup) hidup saling bergantung -- sesuai dengan hukum ekosistem. Karena itu, kalau manusia merusak alam, maka secara otomatis berarti ia juga merusak dirinya sendiri.

2. Kepemimpinan Manusia Atas Alam

Walaupun manusia dengan alam saling bergantung, juga mencatat dengan jelas adanya perbedaan manusia dengan unsur-unsur alam yang lain. Hanya manusia yang diciptakan segambar dengan Sang Pencipta dan yang diberikan kuasa untuk menguasai dan menaklukkan bumi dengan seluruh ciptaan yang lain, dan untuk mengelola dan memelihara lingkungan hidupnya. Jadi, manusia mempunyai kuasa yang lebih besar daripada makhluk yang lain. Ia dinobatkan menjadi "raja" di bumi yang dimahkotai kemuliaan dan hormat. Ia menjadi wakil Tuhan yang memerintah atas nama Sang Pencipta terhadap makhluk-makhluk yang lain. Ia hidup di dunia sebagai duta Tuhan. Ia adalah citra, maka ia ditunjuk menjadi mitra bagi Sang Pencipta. Karena ia menjadi wakil dan mitra Tuhan, maka kekuasaan manusia adalah kekuasaan perwakilan dan perwalian. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yang terbatas dan yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemberi kuasa, yaitu Sang Pencipta. Itu sebabnya manusia tidak boleh sewenang-wenang terhadap alam. Ia tidak boleh menjadi "raja lalim". Kekuasaan manusia adalah kekuasaan "care-taker". Maka sebaiknya manusia memberlakukan secara seimbang, artinya pengelolaan dan pemanfaatan sumber-sumber alam diimbangi dengan usaha pemeliharaan atau pelestarian alam.

Kata "mengelola" digunakan istilah Ibrani "abudah", yang sama maknanya dengan kata ibadah dan mengabdi. Maka manusia sebagai citra Sang Pencipta seharusnya memanfaatkan alam sebagai bagian dari ibadah dan pengabdiannya kepada Tuhan. Dengan kata lain, penguasaan atas alam seharusnya dijalankan secara bertanggung jawab: memanfaatkan sambil menjaga dan memelihara. Ibadah yang sejati adalah melakukan apa saja yang merupakan kehendak Allah dalam hidup manusia, termasuk hal mengelola ("abudah") dan memelihara ("samar") lingkungan hidup yang dipercayakan kekuasaan atau kepemimpinannya pada manusia.

3. Kegagalan Manusia Memelihara Alam

Manusia selalu serakah dan ingin menjadi yang maha kuasa, dan karena keinginan itu ia "melanggar" amanat Sang Pencipta. Tindakan melanggar amanat Tuhan membawa dampak bukan hanya rusaknya hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesamanya dan dengan alam. Manusia menghadapi alam tidak lagi dalam konteks "sesama ciptaan", tetapi
mengarah pada hubungan "tuan dengan miliknya". Manusia memperlakukan alam sebagai objek yang semata-mata berguna untuk dimiliki dan dikonsumsi. Alam diperhatikan hanya dalam konteks kegunaan (utilistik-materialistik). Manusia hanya memerhatikan tugas menguasai, tetapi tidak memerhatikan tugas memelihara. Dengan demikian, manusia gagal melaksanakan tugas kepemimpinannya atas alam.

Akar perlakuan buruk manusia terhadap alam terungkap dalam istilah seperti: "tanah yang terkutuk", "susah payah kerja", dan "semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkan bumi" (dalam Kitab Kejadian. 3:17-19). Manusia selalu dibayangi oleh rasa kuatir akan hari esok yang mendorongnya cenderung rakus dan materialistik. Dapat dikatakan bahwa akar kerusakan lingkungan alam dewasa ini terletak dalam sikap rakus manusia yang dirumuskan oleh John Stott sebagai "economic gain by environmental loss". Manusia berdosa menghadapi alam tidak lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi sekaligus untuk memenuhi keserakahannya. Dengan kata lain, manusia berdosa adalah manusia yang hakikatnya berubah dari "a needy being" menjadi "a greedy being". Kegagalan dalam melaksanakan tugas kepemimpinan atas alam merupakan pula kegagalan manusia dalam mengendalikan dirinya, khususnya keinginan-keinginannya.

4. Hubungan Baru Manusia-Alam

Sang Pencipta yang Mahakasih mengasihi dunia ciptaan-Nya (kosmos) sehingga Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dalam dunia. Logos ini yang disebut Firman penciptaan telah berinkarnasi (mengambil bentuk materi dengan menjelma menjadi manusia) Ia telah mendamaikan Sang Pencipta dengan segala sesuatu (ta panta) atau dunia (kosmos) ini Sang Logos telah memulihkan hubungan Tuhan dengan manusia dan dengan seluruh ciptaan-Nya dan memulihkan hubungan manusia dengan alam. Atas dasar itu, maka hubungan harmonis dalam Eden (Firdaus) telah dipulihkan.

Hubungan baru manusia dengan alam bukan saja hubungan "dominio" (menguasai) tetapi juga hubungan "comunio" (persekutuan). Itu sebabnya Sang Pencipta yang telah berinkarnasi itu menggunakan pula unsur-unsur alam, yaitu "air, angggur, dan roti" dalam sakramen yang menjadi tanda dan meterai hubungan baru manusia dengan Sang Pencipta. Dengan kata lain, hubungan manusia dengan Tuhan yang baik harus tercermin dalam hubungan yang baik antara manusia dengan alam. Persekutuan dengan Sang Pencipta harus tercermin dalam persekutuan dengan alam. Hubungan yang baik dengan alam, sekaligus mengarahkan kita pada penyempurnaan ciptaan dalam "langit dan bumi yang baru" dalam langit dan bumi yang baru itulah Firdaus yang hilang akan dipulihkan.

Senin, 23 November 2009

Rasakan sensasi STAR TREK !


Click link dibawah ini agar kamu bisa merasakan kedahsyatan sensasi STAR TREK !...